Pembunuhan Asma binti Marwan oleh Muhammad
Asma binti Marwan adalah seorang penyair wanita dari suku Aws di Medinah. Ia menulis syair yg mengolok orang Medinah karena menuruti seorang pendatang asing (Muhamad) dan tidak berani melawannya. Dan bulan itu juga, ketika nabi mendengarkan apa yg ditulis Asma, ia bertanya, “Siapa yg dapat menyingkirkan puteri Marwan utk saya ?”
Seorang Muslim bernama 'Umayr ibn Adiy al-Khatmi yang berasal dari suku yang sama dengan suku suami Asma (yakni Banu Khatma) bersedia melaksanakan pekerjaan itu. Di tengah malam, dia mengendap-endap masuk ke rumah Asma. Anak²nya yang masih kecil tidur mengelilingi Asma di tempat tidur. Saat itu bayinya sedang menyusu di dadanya. 'Umayr ibn Adi memindahkan bayi itu dari dada Asma dan dengan sekuat tenaga membenamkan pedangnya ke perut Asma sampai menembus punggungnya. Tusukan pedang yang kuat ini langsung mematikan Asma saat itu juga. Ini terjadi lima hari sebelum bulan suci puasa Ramadan berakhir di mana seharusnya Muslim tidak boleh menumpahkan darah.
Setelah membunuh Asma, keesokan harinya Umayr sang pembunuh pergi solat di mesjid ketika Muhamad juga berada di situ. Muhamad sangat ingin tahu apakah tugas pembunuhan berhasil dilaksanakan atau tidak. Dia bertanya pada Umayr, “Apakah kau sudah membunuh anak perempuan Marwan?”
Ibn S’ad [Ibn S’ad, Kitab At Tabaqat, vol. ii, hal.31] berkomentar bahwa inilah kalimat yang pertama didengar Umayr dari Muhammad di hari itu. Ketika Umayr berkata bahwa Asma telah dibunuh, Muhammad berkata, “Kau telah menolong Tuhan dan RasulNya, wahai Umayr!”
Ketika Umayr kembali ke Medinah, dia berjumpa dengan anak² laki Asma yang sedang menguburkan jenazah ibunya. Mereka menuduh Umayr membunuh ibu mereka. Tanpa ragu, Umayr mengaku pembunuhan itu dengan sombong dan mengancam akan membunuh seluruh keluarga mereka jika mereka berani mengejek sang Nabi yang penuh kasih pengampunan. Ancaman ini ternyata mujarab sekali. Seluruh suku suami Asma (Banu Khatma) yang diam² membenci Islam, sekarang terang²an jadi taat agar nyawa mereka selamat. Ibn Ishak menulis, “Itulah hari pertama di mana Islam menjadi kuat diantara B. Khatma. Hari dimana Binti Marwan dibunuh menjadi saat orang2 B. Khatma jadi Muslim karena mereka melihat kekuatan Islam.” [Ibn Ishak, Sirat Rasul Allah, hal.676]
Seorang Muslim bernama 'Umayr ibn Adiy al-Khatmi yang berasal dari suku yang sama dengan suku suami Asma (yakni Banu Khatma) bersedia melaksanakan pekerjaan itu. Di tengah malam, dia mengendap-endap masuk ke rumah Asma. Anak²nya yang masih kecil tidur mengelilingi Asma di tempat tidur. Saat itu bayinya sedang menyusu di dadanya. 'Umayr ibn Adi memindahkan bayi itu dari dada Asma dan dengan sekuat tenaga membenamkan pedangnya ke perut Asma sampai menembus punggungnya. Tusukan pedang yang kuat ini langsung mematikan Asma saat itu juga. Ini terjadi lima hari sebelum bulan suci puasa Ramadan berakhir di mana seharusnya Muslim tidak boleh menumpahkan darah.
Setelah membunuh Asma, keesokan harinya Umayr sang pembunuh pergi solat di mesjid ketika Muhamad juga berada di situ. Muhamad sangat ingin tahu apakah tugas pembunuhan berhasil dilaksanakan atau tidak. Dia bertanya pada Umayr, “Apakah kau sudah membunuh anak perempuan Marwan?”
Ibn S’ad [Ibn S’ad, Kitab At Tabaqat, vol. ii, hal.31] berkomentar bahwa inilah kalimat yang pertama didengar Umayr dari Muhammad di hari itu. Ketika Umayr berkata bahwa Asma telah dibunuh, Muhammad berkata, “Kau telah menolong Tuhan dan RasulNya, wahai Umayr!”
Ketika Umayr kembali ke Medinah, dia berjumpa dengan anak² laki Asma yang sedang menguburkan jenazah ibunya. Mereka menuduh Umayr membunuh ibu mereka. Tanpa ragu, Umayr mengaku pembunuhan itu dengan sombong dan mengancam akan membunuh seluruh keluarga mereka jika mereka berani mengejek sang Nabi yang penuh kasih pengampunan. Ancaman ini ternyata mujarab sekali. Seluruh suku suami Asma (Banu Khatma) yang diam² membenci Islam, sekarang terang²an jadi taat agar nyawa mereka selamat. Ibn Ishak menulis, “Itulah hari pertama di mana Islam menjadi kuat diantara B. Khatma. Hari dimana Binti Marwan dibunuh menjadi saat orang2 B. Khatma jadi Muslim karena mereka melihat kekuatan Islam.” [Ibn Ishak, Sirat Rasul Allah, hal.676]


